Soft Launching - Taman Film Bandung

sumber
Bapak Walikota Bandung lagi-lagi bikin sesuatu yang keren, yaitu Taman Film Bandung. Dan kalian tau? Ini adalah yang pertama di Indonesia! Keren ga? Bandung gitu loh *tepuk dada* #BandungJuara

Tanggal 14 September 2014 ini adalah soft launching-nya. Bisa dibilang, lalaunchingan kalau kata orang Bandung mah, hahaha.

Launching benerannya, gue gatau kapan. Katanya ini baru 20%. Segini aja udah keren, apalagi kalau udah 100%, wuih bangetlah pastinya! Oh iya, layarnya punya nama, Megatron. Gagah-gagah gimana gitu :3

Lagi siap-siap buat nonton film pertama.
Tempatnya emang ga terlalu luas, tapi kayanya cukup buat nampung 500 orang #sotau. Tempatnya juga nyaman dan teduh, karena lokasinya ada di bawah jembatan layang Pasupati. Jadi ga perlu takut kehujanan.

Keadaan dibelakang gue. Banyak banget orang.
Di acara soft launching ini, diputar beberapa film pendek hasil karya anak muda Bandung. Sayang, gue cuma sampai jam 17.30 disana. Padahal acaranya sampai jam 23.00 #deritaanakperempuan

Ini ada sedikit cuplikan saat acara soft launching Taman Film Bandung. Punten pisan mun gambarna teu hade.


Intinya soft launching ini adalah peresmian Taman Film Bandung yang diresmikan langsung oleh bapak Ridwan Kamil sendiri, selaku Walikota Bandung. Dan sayang juga, pak wali pulang duluan. Beliau bilang, "Maaf saya pulang duluan. Ada rapat untuk mengurus Bandung besok hari."

Sebagai mahasiswi pecinta gratisan dan warga Bandung, gue sukaaa >,< I Love U pak Emil~

Yuk ke Bandung! Tapi jangan mengotori Bandung kami ya!

Natsu Matsuri di BJS

Kemarin, hari Minggu, gue diajak temen sekelas pergi ke Bandung Japanese School buat ikut merayakan natsu matsuri. Natsu matsuri itu artinya pesta musim panas. Di Jepang, bulan segini memang lagi musim panas.

Kalau di Bandung mah harusnya pesta musim kemarau.
Acaranya dimulai jam 10 sampe jam 2 siang. Tapi karena gue orang Indonesia, gue datengnya jam 12. Hahaha #sangattidakpatutdicontoh. Pas nyampe sana, ternyata udah bagian bintang tamu yang tampil. Bintang tamunya itu Hiroaki Kato. Ada yang tau? Gue juga baru liat dan baru tau.

Ternyata Hiro itu orang Jepang asli yang sedang meniti karir sebagai penyanyi di Jakarta. Dia bilang, "Saya akan jadi orang Jepang pertama yang terkenal di Indonesia." Terlalu narsis memang. Padahal udah ada orang Jepang yang duluan terkenal kan? Si Haruka misalnya.

Mumpung Hiro belum terkenal, foto bareng dulu.




















Dengan bangganya dia juga bilang, kalau dia punya acara di Rajawali TV. Nama acaranya Indonesia banget. Dan bukan cuma itu, dia juga menterjemahkan novel Laskar Pelangi ke bahasa Jepang. Katanya di Jepang udah terjual 5rb kopi. Tau senam yang iya iyalah? Nah dia yang nerjemahin ke bahasa Indonesia loh! Multitalenta banget yah.

Di acara natsu matsuri kemarin, dia nyanyi 4 lagu. Salah satunya dia nyanyi lagu Laskar Pelangi-nya Nidji, tapi dalam bahasa Jepang.


Maaf banget kalau videonya ga HD (maklum ngerekam di hape) dan di videonya ada sedikit suara gue ngobrol sama temen. Soalnya ada hal menarik yang jarang, bahkan ga mungkin orang Indonesia lakukan.

Jadi gini, karena panas, gue ga duduk di rumput kaya orang-orang yang lain. Gue duduknya di tangga yang teduh. Kalau ada orang yang lewat depan gue disaat gue merekam video, otomatis dia akan terekam dan mengahalangi. Dan kalian tau? Orang Jepang yang lewat pada jalan bungkuk tepat di depan gue dan temen gue yang sedang merekam.

Gue terpesona. Orang Indonesia mana ada yang gitu (termasuk gue). Padahal yang lewat itu bapak-bapak loh!

Ada lagi satu pelajaran yang bisa diambil dari orang Jepang. Walau mereka tinggal di negeri orang, mereka tetap mencintai kebudayaan mereka. Salah satunya dengan melaksanakan natsu matsuri ini.

Semoga kita sebagai orang Indonesia, bisa lebih baik dari orang-orang Jepang dan orang luar negeri lainnya. Jangan sampai mau kalah dalam mencintai kebudayaan sendiri.

Hijab, Tentang Proses dan Fenomena


Sebenarnya gue baru tau, kalau tanggal 4 September itu Hari Hijab Sedunia. Iya gue ga gaul.

Di hari hijab sedunia ini, gue mau bahas sedikit tentang fenomena yang lagi rame belakangan ini, yaitu jilboobs.

"Jilboobs merupakan istilah penggunaan jilbab namun masih berpakaian ketat dan menunjukkan lekuk tubuh. Penggunaan jilboobs tidaklah sesuai dengan syariat agama Islam yang mengharuskan penggunanya untuk menggunakan pakaian longgar dan tidak ketat. Sedangkan jilboobs hanya mementingkan menutup rambut saja.
Istilah jilboobs diambil dari istilah jilbab dan boobs atau payudara wanita. Jilboob gaya berpakaian berjilbab namun masih memperlihatkan lekukan dada, pantat, dan perut mereka.
Perempuan ber-jilboobs seringkali menggunakan kaus lengan panjang namun ketat atau baju lengan panjang yang tembus pandang. Atasan tersebut biasanya dipadu dengan bawahan rok tembus pandang, legging maupun celana jeans ketat." (Dikutip dari http://www.harianjogja.com)

Gue juga ga tau, siapa pencetus istilah itu. Tau-tau terkenal aja, kaya Sinta dan Jojo.

Memang belakangan ini, wanita berjilbab itu populasinya semakin banyak. Alhamdulillah. Tapi masih banyak diantara mereka yg belum ngerti gimana seharusnya menutup aurat yang benar. Bukannya gue merasa benar, tapi ini juga peringatan bagi gue sendiri. Jujur, gue juga belum benar dalam masalah menutup aurat.

Dulu gue juga suka pake celana dan baju yang ketat, dan kerudung yang ga menutup dada. Tapi pelan-pelan gue ubah. Walaupun masih suka pake celana, tapi gue pake yang agak longgar. begitupun bajunya. Gue juga sering mengganti celana dengan rok. Pake kerudung pun udah mulai menutup dada, ya walaupun belum syar'i.

Kalau diliat dari gambar dibawah, gue merasa ada ditingkat antara 6 dan 7. Kadang-kadang tingkat 8. Hehe. Kamu?

sumber
Gue sebagai perempuan berjilbab, ngerasa sedih ketika para jilboobers dihina-hina. Bukannya gue mendukung mereka berpakaian seperti itu, tapi jika kita merasa lebih baik dari mereka, harusnya kita memberitahu mereka, bukan menghina. Masa orang baik menghina?

Untuk menjadi sukses, butuh proses. Untuk menutup aurat dengan benar juga butuh proses. Setiap manusia butuh proses. Kita sebagai orang yang tahu, wajib membeitahu ke mereka yang belum tahu. Tentunya dengan cara yang baik-baik.

Semoga sebagai muslimah, kita bisa terus memperbaiki diri dan diberi kekuatan dalam menjalankan tugas-Nya, karena penerus bangsa lahir dari rahim kita.

Selamat Hari Hijab Sedunia! ~\o/~

Qur'an Cantik Bagi si Cantik

“Yang membaca Al-Qur'an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur'an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” [Al-Bukhari 4937, Muslim 244]
Sebagai muslim, kita diwajibkan membaca Al-Qur'an. Untuk memenuhi kewajiban itu, kita diharuskan memiliki setidaknya satu buah Al-Qur'an utuk dibaca dan dipelajari. Sekarang sudah banyak berbagai macam jenis Al-Qur'an, salah satunya Qur'an Azalia terbitan Syaamil Qur'an.

http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/azalia1.png

Qur'an Azalia ini adalah Al-Qur'an yang didesain untuk CCC (Cewe-Cewe Cantik) seperti kita. :D

Desain yang cewe banget, dengan sampul dan tali menambah kecantikan Al-Qur'an itu sendiri, juga ukurannya yang kecil memudahkan untuk dibawa kemana-mana. Jadi kita bisa membaca Al-Qur'an dimanapun dan kapanpun.

Qur'an Azalia dilengkapi dengan konten:
  • Blok ayat-ayat tentang wanita dan keluarga
  • Indeks Keluarga
  • Wanita-wanita abadi dalam Al-Quran
  • Doa sujud tilawah
  • Adab memuliakan Al-Quran
  • Pedoman tanda wakaf

Keunggulan lainnya adalah Qur'an Azalia ini sudah dilengkapi dengan sampul dan resleting, jadi bisa membuat Al-Qur'an ini lebih awet dari yang lain. Juga desain sampulnya yang seperti dompet, bisa menipu pencopet. Pengennya dapet uang, eh taunya Al-Qur'an. Siapa tau sehabis mencopet, dia jadi insyaf. Siapa tau kan? Tapi semoga kita selalu dilindungi Allah dari perbuatan-perbuatan seperti itu.

Intinya adalah percantik diri bukan hanya di luar saja, tapi juga di dalam. Jangan Qur'an aja yang cantik, kamunya juga! Cantik hatimu, cantik Qur'an-mu.

sumber

Gue, Buku dan Masalah

Mungkin semenjak masuk SMK, hobi membaca novel mengalahkan hobi membaca komik. Apalagi sekarang, semenjak masuk universitas, hobi membaca novel berubah menjadi hobi menimbun novel. Bukan karena banyak uang, tapi karena saking padatnya jadwal kuliah. Novel yang dibeli bulan lalu, masih terbungkus rapih di bulan berikutnya. #baladamahasiswi

sumber
Sebenarnya, hobi menimbun novel itu bisa aja dihentikan, kalau hobi mengunjungi toko buku dihentikan. Tapi apa daya, hasrat untuk mengunjungi toko buku selalu ada. Ya minimal sebulan sekali lah. Apalagi di bandung selalu diadakan acara Pameran Buku. Itu godaan banget! :(

Parahnya lagi, sampul-sampul novel itu selalu menggoda. Itu membuat gue ga bisa tahan untuk segera bawa pulang ke rumah. Sebagai pecinta novel, gue memang selalu melihat dulu covernya. Kalau cover udah oke, kemudian gue baca sinopsis untuk mengetahui tema dan inti ceritanya. Kalau cocok, barulah gue liat harganya. Kalau ketiga faktor itu udah cocok di hati dan di kantong, langsung cari novel lain. Hahaha.

Biasanya kalau belanja novelnya udah mendekati 100rb, barulah gue menuju kasir dan pulang untuk menimbun novel lagi. Ditimbun, bukan dibaca. Sebernarnya menimbun novel adalah sebuah masalah yang harus diselesaikan. Kalau ngga, mau sampai kapan itu novel terbungkus rapih gak dibaca?

Tapi sebenernya, ada beberapa masalah (dalam dunia perbukuan) yang lebih penting dibandingkan masalah penimbunan novel.

1. Penerbitan
Pasti tiap penerbit punya kriteria masing-masing dalam menerbitkan sebuah buku. Tapi kalau dilihat-lihat, kok orang-orang yang sudah terkenal di tivi dan si sosmed lebih mudah dan cepat dalam menerbitkan buku. Sedangkan orang-orang biasa butuh proses yang panjang dan lama. Ini menurut pandangan gue loh. Kalau salah, ya syukur alhamdulillah.

2. Promosi
Sepertinya cuma penerbit-penerbit mayor yang gencar mempromosikan bukunya. Penerbit yang lain kemana? Harusnya mereka mencontoh para penerbit mayor, supaya para penulis yang menerbitkan bukunya berkata, "Walau menerbitkan buku di penerbit kecil, tapi ga berbeda dengan penerbit besar yang lain. Saya ga salah pilih."

3. Segmen Pembaca
Ini yang harus diperhatikan oleh para penerbit, tentang segmen. Novel bukan hanya ditujukan bagi para remaja, tapi orang dewasa juga. Seharusnya, novel-novel dewasa itu diberi label "DEWASA" di setiap sampulnya. Kenapa? Karena biasanya novel dewasa itu sering ada kata-kata yang belum pantas dibaca oleh para remaja. Masalah nanti para remaja tetap beli atau ngga, itu urusannya sendiri. Soalnya temen gue juga pernah terjebak, karena sampulnya yang menarik.

Mungkin itu cuma sedikit masalah yang ada di dunia penerbitan. Sekali lagi, itu cuma menurut pandangan gue. Untuk yang ke-3 itu pengalaman. Soalnya, dulu temen gue pernah terjebak salah beli novel.

Apapun masalah yang ada di dunia penerbitan buku, hobi gue tetep membeli, menimbun, dan kalau ada waktu, membaca novel.

sumber