Jadi Cemburu

Seseorang yang selalu memikirkan dirinya sendiri, tiba-tiba berpikir tentang orang lain. Itulah yang terjadi ketika si introver jatuh cinta. Kepada siapa sebenarnya dia menanamkan perasaannya? Ternyata itu pada si ekstrover.

Semakin lama semakin dalam perasaannya, sampai suatu waktu si introver merasakan hal aneh dalam dirinya. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan ketika berdiam diri di dalam kamar ataupun membaca novel. Hal yang dia rasakan saat itu benar-benar membuatnya seperti orang bodoh. Angin yang berhembus kencang, malah membuatnya kegerahan. Bukan karena teriknya matahari yang tepat di atas kepala, tapi karena melihat kekasihnya--si ekstrover--mengobrol dengan lawan jenis di depan matanya.

Si introver memaki-maki dirinya sendiri kemudian bertanya pada hatinya, "Gue kenapa sih? Kan tau sendiri mereka cuma teman. Ayo sadar!"

Sebagai seseorang yang mandiri si introver merasa malu, dia tak boleh egois seperti ini. Dia harus sadar bahwa itulah sifat si ekstrover, selalu pandai bersosialisasi sehingga banyak orang yang berada di sekitarnya.

Berkali-kali si introver bertanya pada hatinya, "Apa ini yang namanya cemburu?" Semakin banyak ia bertanya, semakin yakin bahwa memang itulah yang dia rasakan.

Dia benar-benar tak percaya, setelah sekian lama akhirnya tahu cemburu itu seperti apa. Dia bingung, harus merasa bahagia atau merasa malu? Bahagia karena akhirnya dia tahu cemburu itu, atau malah malu karena hal sepele yang menyebabkan itu.

Tapi akhirnya si introver menyadari, bahwa sesungguhnya cemburu adalah konsekuensi dari mencintai si ekstrover.

sumber

2 comments:

  1. itu karena perasaan needy kita sama seseorang..sebaiknya terlalu baper itu dikurangi biar nga menyiksa diri sendiri

    ReplyDelete